Oleh: Fitriah Abdul Azis, S.Sos*
Lanskap politik global sedang menggambarkan dirinya menuju upaya Multipolar. Negara-negara Adidaya dengan kekuasaan global yang terlibat dan memiliki pengaruh signifikan dalam politik internasional adalah, Tiongkok, Rusia, Amerika Serikat (AS), Iran, muncul mengisi “konser pertunjukan” sebagai pemain kunci yang saling bersaing untuk mendapatkan pengaruh pada politik dan ekonomi global. Sistem multipolar yang ditandai dengan kekuasaan yang terdistribusi di antara pemain-pemain utama adalah untuk melawan Unipolar AS yang sebelumnya mendominasi politik dan ekonomi global. Tetapi transisi yang dicapai oleh negara-negara Adidaya ini bukanlah dengan strategi damai dan diplomatik, namun transisi menuju tatanan dunia baru itu dicapai dengan strategi “Hard Power”, masing-masing negara mengeluarkan sumber daya kekuatan level tinggi. Negara-negara seperti Rusia, AS dan Iran, mengeluarkan sumber daya level tinggi agar masing-masing negara bisa memproyeksikan kekuatan militer dan teknologi militernya, memperluas ancaman eksternalnya dan menghancurkan target-target strategis serta fasilitas-fasilitas militer agar negara-negara lain berpikir dua kali sebelum melakukan serangan.
Dengan negara-negara yang mengejar kesepakatan Multipolar dimana upaya mengubah struktur kekuasaan global dan tidak ada satu negara besar yang dominan secara absolut dimasa depan, menyebabkan persaingan di antara negara-negara Adidaya dapat mempengaruhi dinamika politik global. Pusat-pusat kekuatan yang muncul pada hari ini ada di Tiongkok, Rusia, AS dan Iran, secara aktif telah membuat ketidakstabilan tatanan internasional sambil mereka menentang norma-norma dan mengabaikan keberadaan lembaga-lembaga internasional yang ada. Aliansi-aliansi lama perlahan tererosi, harus bersaing dengan kemunculan kemitraan-kemitraan baru dan negara-negara Adidaya berada di dalamnya yang berupaya menavigasi kemitraan ke arah lanskap Multipolar dengan mengikat negara-negara pusat di kawasan regional, dan negara-negara Adidaya terlibat dalam konflik politik domestik negara-negara di kawasan, memperdalam kehadirannya dalam konflik domestik negara-negara di kawasan regional tersebut. Lembaga-lembaga internasional dan organisasi regional dipaksa terlibat dan harus beradaptasi dengan kompleksitas konflik yang muncul dan ikut melalui proses ke arah sistem Multipolar itu.
Berbagai strategi untuk mencapai kesepakatan Multipolar, Tiongkok memberi kontribusi kemitraan ekonomi pada Belt Road Initiatif (BRI) yang menggelontorkan utang kepada negara-negara anggota lintasan BRI sebagai investasi asing yang jumlahnya telah mengalahkan investasi Amerika dan Uni Eropa di Asia. Rusia memberi kontribusi keseimbangan kekuatan untuk menghadapi ekspansi politik Uni Eropa di Eropa Timur atau negara-negara bekas Uni Soviet dengan perang di Ukraina, dan negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. Iran memberi kontribusi mekanisme penyelesaian sengketa antara Israel dan Palestina dengan konfrontasi keras dengan Israel yang ditopang AS yang selama ini telah mengekalkan kekuasaan Israel di Timur Tengah. AS memberi kontribusi pada proteksionisme ekonomi, prioritas kebijakan luar negeri anti Tiongkok, dan strategi Timur Tengah. Saat ini dampak global serangan AS terhadap Iran yang sedang berlangsung, AS masih menjadi mendominasi konflik tersebut, di tengah Rusia yang tidak perduli dan Tiongkok yang menghindar dari konfrontasi itu. Amerika Serikat pada 22 Juni menyerang tiga fasilitas nuklir Iran yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan, ini untuk membatasi ambisi Iran mengembangkan nuklir yang ke depannya dapat mencegah Iran menjadi negara berkekuatan nuklir. Selain serangan Israel, AS terlibat langsung mengubah keseimbangan kekuatan regional dan global. Jelas bahwa dampak pengeboman Iran tidak terbatas pada Iran saja dan negara-negara di sekitarnya. Lalu apakah kekuatan global benar-benar sudah bergeser ke multipolar?
Ada empat aktor dalam sistem multipolar di dunia, yaitu AS, Rusia, Uni Eropa dan Tiongkok. Ketika menganalisis kebijakan dan reaksi keempat aktor ini, dapat dilihat bahwa AS masih berperan sebagai hegemon. Namun, hegemoni AS perlu kalibrasi ulang agar dapat berfungsi dengan baik, karena hegemon AS telah gagal menyediakan barang publik global yaitu perdamaian dan stabilitas internasional. Namun, publik belum mendengar ada aktor lain selain AS yang memiliki keinginan atau niat untuk menggantikan hegemon terakhir yaitu perdamaian dan stabilitas internasional. Publik bisa menyaksikan bagaimana Rusia, Uni Eropa dan Tiongkok menjauh dari konflik di Timur Tengah. Serangan yang berlangsung di Palestina oleh Israel bersama AS selama beberapa dekade, memperlihatkan kepada masyarakat internasional, aktor-aktor lain tidak memainkan peran dalam menciptakan perdamaian di Palestina. Rusia, tidak mengambil peran apapun dalam krisis di Timur Tengah saat ini. Bahkan tindakan kongkrit terhadap kenyataan genosida, apartheid Israel di Palestina juga tidak terlihat perannya. Rusia ekonominya sangat bergantung pada sumberdaya energi, akan sangat diuntungkan dengan adanya konflik ini karena harga minyak akan berkontribusi pada ekonomi Rusia yang sedang terpuruk karena perangnya dengan Ukraina. Rusia juga tidak ingin perangnya dengan Ukraina menjadi agenda pembahasan internasional lagi, dan membiarkan Barat sibuk di Timur Tengah dengan Iran menjadi pusat krisisnya.
Tiongkok juga tidak menunjukkan tindakan nyata apapun, tidak mendukung Iran tidak mendukung Israel, karena Iran salah satu mitra dagang terbesarnya di Timur Tengah, selama serangan Israel dan AS, Tiongkok tidak mengubah wacana non-intervensinya dan meminta kedua belah pihak untuk tidak meningkatkan ketegangan. Tiongkok mengklaim bahwa pihaknya mencoba mengkonsolidasi dan mau memimpin mereka dalam mencapai otonomi strategis. Namun, dengan tetap tidak perduli terhadap serangan AS dan Israel terhadap Iran, Tiongkok pasti akan membayar harganya. Paling tidak, jika sektor energi dirugikan, ekonomi Tiongkok akan menderita. Di sisi lain, hubungan bilateral tidak mengharuskan Tiongkok untuk berpartisipasi langsung dalam konflik di Timur Tengah demi Iran. Karena Iran bukanlah mitra Tiongkok, Iran tidak sama dengan Pakistan. Intinya, Tiongkok belum mampu membela negara-negara non Barat dari kekuatan AS. Pergeseran kearah Multipolar tampaknya belum siap menjadi pembahasan dunia internasional. Sistem global belum siap berevolusi kearah Multipolar selama AS masih menyiapkan anggaran tinggi untuk mendominasi politik global. Dengan serangan Israel terhadap Iran, berpotensi menyeret AS ke dalam konfrontasi militer yang akan merubah lanskap Timur Tengah dimasa depan. Di seretnya AS ke dalam konflik ini menjadi keberhasilan Israel yang berhasil mendorong AS membentuk kebijakan AS berada di Timur Tengah yang berpusat pada keamanan Israel, dan mewajibkan AS mempertahankan keunggulan militernya di Israel. Artinya penjualan senjata dan kepemilikan senjata paling canggih akan dimiliki Israel termasuk bantuan keuangan dan pembelaan AS kepada Israel di forum internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa.
*Penulis adalah pengurus di Partai Ummat dan Mahasiswa Pascasarjana Hubungan Internasional.
